skip to main | skip to sidebar
Showing posts with label lyric and narrative. Show all posts
Showing posts with label lyric and narrative. Show all posts

Monday, December 24, 2012

Lirik | Narasi | Lagu "Gaya Remaja"

Lagu "Gaya Remaja" yang di populerkan oleh Anggun C. Sasmi

model rambut berbuntut sepatunya pun butut
tas digantung di pundak tampang memikat
semua mata menatap seolah dia jadi idola
setiap gadis usia muda

dengan wajah ceria dia pergi kesekolah
sambil berlari lari mengejar bis kota
tak pernah dia peduli walau setiap hari terjepit
tapi dia malah meringis

semua teman selalu bersamamu
hanya ingin dengar ocehanmu

tiada hari yang indah tanpa kehadiranya
tiada canda tiada gelak tawa
engkau idola gadis remaja

kini anak sekolah banyak meniru dirimu
dengan sgala tingkahnya yang lagi model
apakah itu semua merupakan identitas diri
sebagai anak-anak sekolah

semua teman selalu bersamamu
hanya ingin dengar ocehanmu

tiada hari yang indah tanpa kehadiranya
tiada canda tiada gelak tawa
engkau idola gadis remaja

U wow o.. idola remaja
U wow o.. gaya remaja
U wow o.. gadis remaja U wow o..

o.. u wow o..o. u wow
o.. u wow o..o. u wow

Lirik lagu diatas sangat jelas menggambarkan gaya remaja di era awal 90an. Waktu itu model rambut panjang belakangnya doang atau model personil NKOTB dan menyandang tas di pundak. Memang remaja pada waktu itu, dengan gaya yang seperti itu udah sangat merasa keren. clana cutbray, kemeja flanel kotak-kotak, topi dengan logo club NBA, nelpon cewek pake telpon umum, nongkrong di terminal atau perempatan sambil godain gadis-gadis yang lewat, jaman dulu mall hanya ada di ibukota propinsi. Meskipun ngga ada duit dikantong mereka ngga kehabisan akal buat bersenang senang, nyanyi-nyanyi sambil gitaran, atau mbolos sekolah naik kereta barang keluar kota bareng-bareng temen satu genk.

Tuesday, October 11, 2011

Narasi | Lirik | Lagu Padi Seperti Kekasihku

Seperti Kekasihku - Padi


Engkau... seperti kekasihku yang dulu
Sungguh... hadirmu menyejukkan risau jiwaku
Begitu lekatnya... perasaanku kini padamu
Hingga... anganku kusandarkan padamu


Memang gerakmu memang langkahmu
Mengingatkan aku pada dirinya yang telah berlalu
Inginku menyangkal inginku membantah
Betapa pesona dirimu memikat erat jiwaku


Mungkin... terbuai mungkin aku terlena
Ada... keinginan yang tak tentu arah
Engkau... tercipta bukan untuk bersama
Biar... kunikmati kerinduan ini


Maafkan aku yang selalu teringat akan dirinya
Menggugah segala yang ada dalam kenanganku
Sedapatnya aku menepis keinginan itu
Kuharap engkau dapat memaafkan aku


Apa yang terpancar dari dalam hati
Tak dapat aku bantah tak mampu kusingkirkan
Sesungguhnya aku sangat ingin melupakan
Inginku melupakan .... inginku melupakan ....


Engkau... seperti kekasihku yang dulu
Sungguh... hadirmu menyejukkan risau jiwaku


Disini saya mencoba untuk menarasikan lirik lagu padi yang berjudul Seperti Kekasihku. Lagu ini sangat bagus, baik dari musikalitas maupun liriknya. Lagu ini pantas mendapat apresiasi karena memang sangat berkualitas. disini saya hanya akan mencoba untuk membuat narasi dari lagu tersebut.

Lagu ini menceritakan seorang pemuda yang bertemu dengan sosok perempuan yang mirip dengan kekasihnya dahulu. Mereka berpisah karena suatu hal, yang jelas perpisahan tersebut bukan kehendak mereka. itu terlihat dari liriknya yang masih merindukan sosok dirinya.
Sejak pertemuannya dengan perempuan tersebut ingatannya kembali ke masa lalu waktu masih bersama kekasihnya. perempuan tersebut mirip baik dari wajah, sosok, maupun gerakannya.
Akan tetapi.. Perempuan tersebut (yang seperti kekasihnya dulu), ternyata sudah mempunyai kekasih, ini terlihat dari liriknya Engkau... tercipta bukan untuk bersama. Biar... kunikmati kerinduan ini
Sebenarnya sang pemuda ingin sekali menjadikan perempuan tersebut sebagai kekasihnya tapi keinginan tersebut ditepisnya jauh-jauh.
Demikian yang dapat saya ceritakan dari lagu tersebut.

Hanya ingin berbagi, ada kesalahan dan kurang lebihnya saya mohon maaf. Silahkan beri komentar

Wednesday, September 28, 2011

Bedah Album "DREAM THEATER: METROPOLIS PART II: SCENES FROM A MEMORY"

0 comments
Mohon maaf jika tulisan berikut sudah sering dibahas
Mencermati fenomena musik jaman sekarang, apalagi musik Indonesia, banyak kita jumpai musik yang hanya mengejar pasar dan seolah "mengabaikan" kualitas musik mereka. Kualitas musik mereka tidak seperti band-band jaman dulu yang total dalam mengerjakan suatu lagu. Banyak band-band yang hanya menjadi bintang sesaat.
Ini juga terjadi mancanegara. banyak bermunculan nama baru seperti Justin bibir dan lady gagal yang sanggup menghinotis jutaan orang di negara kita ini.
Tapi, disamping itu semua, ada sebuah band bertalenta dan berkualitas dari amerika yang tergolong sudah berusia tua tapi masih berkarya. band itu bernama "Dream Theater".
Dalam dunia musik nama band asal Amerika, Dream Theater sudah tidak asing lagi. Band yang mempunyai aliran preogresif metal ini telah banyak menciptakan karya-karya yang menurut saya luar biasa. Meskipun beberapa kali sempat berganti-ganti personel, band ini tetap solid dan “guyub-rukun” dengan mantan personil-personilnya. (menurut gosip sih begitu)
Di tahun 1999, band mengeluarkan “album konsep” yang berbeda dari album-album mereka sebelumnya. Album tersebut diberi judul “METROPOLIS Pt. 2: Scenes from a memory” yang merupakan pendalaman dari lagu “METROPOLIS Pt. 1: The miracle and the sleeper” yang termuat dalam album sebelumnya.
Album Scenes from a memory memuat 12 lagu, terdiri dari 10 lagu biasa dan 2 lagu instrumental.

Lagu-lagu tersebut adalah:
  1. Regretion
  2. Overture 1928 (instrumental)
  3. Strange Dejavu
  4. Through my word
  5. Fatal tregedy
  6. Beyond this life
  7. Through her eyes
  8. Home
  9. The dance of eternity (instrumental)
  10. One last time
  11. The spirit carries on
  12. Finally free

Ada yang unik dari album ini, lagu-lagu di album ini jika dimainkan dari lagu pertama sampai lagu terakhir secara berurutan akan menjadi sebuah alur cerita yang menarik untuk diikuti. Cerita tersebut mengisahkan tentang seseorang bernama Nicholas yang pada tahun 2000 melakukan perjalanan waktu ke tahun 1928 dengan menggunakan Hypnotherapy.
Dari beberapa blog yang saya baca yang mengulas kisah tersebut dapat saya kisahkan sebagai berikut


diawali dengan bunyi metronom yang frekuensinya mirip detik-detik jam. Lalu desah napas. Lalu masuklah suara merdu seorang penyanyi perempuan. Lalu suara keyboard yang hening. Terakhir suara gitar akustik, diiringi sebuah nyanyian yang lembut. Itulah "Regression", lagu pembuka yang menjadi prolog album ini. Prolog ini, yang merupakan nukilan dari lagu "The Spirit Carries On" (dengan sedikit pengubahan lirik), diciptakan oleh John Petrucci, gitaris Dream Theater.
Beberapa kali saya membaca dan mendengar kalau John Petrucci adalah gitaris yang kurang menjiwai permainannya. Ada yang menyatakan ia seorang plegmatis yang tampak dingin dan cuek. Bahkan bukan hanya Petrucci, gaya bermain para personil Dream Theater dianggap seperti robot kaku. Bila Anda pernah menyimak video instruksional permainan gitarnya bertajuk "Rock Discipline", apa yang saya baca dan dengar itu memang ada benarnya: John Petrucci memang kalem dan tak menggebu-gebu dalam bicara.
Namun, album Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory ini tampaknya menyuguhkan sesuatu yang kontras dengan kekaleman Petrucci. Dream Theater menyusun skenario album yang matang, sekaligus memadukan musik berirama cadas dan lembut dengan amat memikat.
Saya menyebut adanya skenario yang matang dalam lagu ini karena ada jalinan kisah yang amat tragis dan pedih dalam lirik-lirik lagu non instrumental dalam album ini. Petrucci sebagai penggagas album ini menciptakan paling banyak lirik untuk lagu di album ini. Dari 12 lagu (tidak termasuk 2 lagu instrumental), Petrucci menciptakan lirik untuk 5 lagu, Mike Portnoy 3 lagu, sementara James LaBrie dan John Myung masing-masing 1 lirik. Di sinilah sebenarnya keluwesan Petrucci dan Dream Theater patut diperhitungkan.

Kisah Tragis Asmara Victoria
Saya kurang tahu, apakah ada musisi atau grup band yang pernah menjadikan album mereka seperti yang dilakukan Dream Theater di sini. Dari lagu pertama hingga terakhir, ada benang merah berupa jalinan kisah cinta yang berakhir sangat pedih. Victoria, salah satu tokoh dalam album ini, mati karena cinta segitiga. (Steve Vai, lewat album Real Illusions: Reflections pernah melakukan hal yang mirip dengan menghadirkan tokoh utama bernama Captain Drake Mason. Ia membangun narasi bagi tiap lagu (mayoritas instrumental) yang diciptakannya. Namun, kesinambungan kisah antar lagu tak seperti yang dilakukan Dream Theater, kurang runut. Lagipula, ada beberapa lagu Vai yang direkam secara live di album ini, sementara Dream Theater merekam semua lagunya di studio.
Victoria Page (fiktif) yang meninggal di tahun 1928 adalah seorang gadis yang memiliki mata yang indah. Penggambaran ini ada di dalam lagu "Through Her Eyes: Inloving memory of our child, so innocent, eyes open wide". Victoria menjalin kisah cinta segitiga dengan Julian Baynes (The Sleeper) dan saudaranya, Senator Edward Baynes (The Miracle).
Di waktu yang lain, di tahun 1999, hiduplah seorang pemuda bernama Nicholas. Ia mengalami gangguan kejiwaan, merasa pikirannya dibayang-bayangi oleh Victoria. Ia pergi ke seorang hipnoterapis untuk menghalau kegalauan batinnya. Di sana ia menjalani sebuah proses regression therapy untuk “bertemu” dengan Victoria. Lagu pertama pun dinyanyikan, berjudul Regression. Nicholas masuk ke masa lalu: “My subconscious mind, starts spinning through time, to rejoin the past once again… Hello Victoria so glad to see you my friend.”
Dilagu-lagu berikutnya dikisahkan kalau Nicholas mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Victoria. Lewat imajinasi yang muncul dari alam bawah sadarnya, cerita seorang pria tua yang tidak dikenal, dan berita di koran tahun 1928, ia mendapati Victoria telah dibunuh secara misterius. Ia bangun dari tidurnya selama beberapa kali.
Bolak-baliknya Nicholas dari masa lalu (1928) ke masa kini (1999) membuat ia merenungkan nasib malang yang menimpa gadis itu sampai ia menyempatkan diri mengunjungi makam Victoria. Through Her Eyes adalah lagu dengan latar makam Victoria. Di sana Nicholas merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Victoria dan merasakan kepedihan hatinya. Coba simak penggalan lirik yang mengagumkan ini:

I’m learning all about my life
By looking through her eyes

And as her image
Wandered through my head
I wept just like a baby
As I lay awake in bed


Lewat lirik-lirik yang terurai berikutnya, dikisahkan bahwa Julian, kekasih pertama Victoria, telah mengalami kecanduan alkohol. Indikasi ini ditemukan dalam lirik lagu Home: “Shine… lake of fire, lines take me higher, my mind drips desire, confined and overtired.” Kecanduan ini membuat Victoria meninggalkannya. Kemudian, perselingkuhan pun terjadi. Victoria jatuh dalam pelukan Senator Edward. Nicholas masih belum dapat menguak misteri kematian Victoria yang rumit. Namun, dari “pengembaraannya” menyusuri kehidupan Victoria, ia mulai menyadari bahwa Victoria hidup dalam dirinya. Kata-kata hipnoterapis pada lagu Fatal Tragedy menjadi jelas maknanya: “Remember that death is not the end but only a transition.”
Lalu, terdengarlah lagu fenomenal dalam album ini, The Spirit Carries On, yang menjadi klimaks ekspresi John Petrucci dan Dream Theater menggambarkan pencerahan batin Nicholas. Di lagu ini dengan gamblang dinyatakan bahwa kehidupan manusia tak hanya berakhir saat kematian. Simaklah kata-kata Nicholas berikut ini:

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I’m not scared anymore
I know that my soul will transcend


Dan, suara Victoria yang telah mati membuat ia selalu hadir dalam benak Nicholas. Inilah kata-kata Victoria itu:

Move on, be brave
Don’t weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear


Ya, selamanya Victoria akan membayangi pikiran Nicholas. Pada akhirnya, di lagu terakhir, Finally Free, Nicholas mulai menguak tabir kematian Victoria: Senator Edward yang terbakar cemburu membunuh Julian dengan pistol. Saat itu Victoria memekik, dan Senator Edward berkata, “Open your eyes, Victoria!” lalu turut membunuh Victoria.
Di bagian akhir, kita mendengar hipnoterapis menyalakan mesin mobil, berjalan mengenakan sepatu, mendekati Nicholas. Ia mengucapkan kata-kata yang sama, “Open your eyes, Nicholas!”
Dan Nicholas pun menjerit, “Aaah!!!”

Nicholas: Reinkarnasi atau Terapi?
Begitulah, sosok Nicholas di masa kini (1999) yang “menyatu” lewat regression therapy dengan Victoria Page yang tewas di tahun 1928, digambarkan dalam lagu demi lagu dengan lirik yang apik. Di sinilah "Dream Theater" menunjukkan kepiawaian mereka menyuguhkan kisah yang surealis nan rumit dalam lirik-lirik lagu di album ini.

Para pendengar bebas menyusun anggapan dan kesimpulan sendiri: benarkah memang ada orang yang pernah dihantui dengan orang yang sudah meninggal di masa lalu? Apakah Nicholas memang merupakan reinkarnasi dari Victoria; dan hipnoterapis adalah reinkarnasi dari Edward Baynes (mengingat ia mengucapkan kata-kata yang sama dengan Edward Baynes saat membunuh Victoria)? Kita bebas menyusun anggapan itu. Saya juga bertanya-tanya, apakah regression therapy yang dijalani oleh Nicholas memang ada di dalam dunia psikologi?
Jadi, pertama, bagi yang mempercayai reinkarnasi, kisah Nicholas ini lebih tepat dipahami sebagai percakapan dua orang di alam bawah sadar tentang kehidupan dan kematian. Dan kedua, bagi yang tidak mempercayai adanya reinkarnasi, lagu ini hanyalah pengembaraan pikiran Nicholas yang di alam bawah sadarnya lewat sebuah proses terapi, menemui sosok ciptaannya sendiri bernama Victoria yang tewas mengenaskan, dan Victoria memampukannya untuk menghadapi ajal yang bakal menjemputnya. Dan saya lebih cenderung untuk “mempercayai” yang kedua.
Satu hal yang saya sayangkan adalah anggapan beberapa orang yang tampaknya “merohanikan” lagu The Spirit Carries On. Saya pernah melihat ada sebuah gambar teman yang sedang berdoa, lalu di bawah gambar itu ia tulisi bait ini:

If I die tomorrow
I’d be all right
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on


Ya, walaupun dalam beberapa konsernya lagu ini dinyanyikan dengan choir yang berseragam mirip choir gerejawi, lagu ini tetap tak bisa dikategorikan lagu rohani. Memang ada bagian yang motivatif yang juga memuat nilai-nilai motivatif dan religius secara universal seperti bait berikut:

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try


Album ini, yang dirilis di tahun 1999, bertitik tolak dari sebuah lagu di dalam album Images and Words yang rilis tahun 1992. Lagu itu berjudul Metropolis Pt. 1: The Miracle and the Sleeper. Saya menemukan kesamaan intro lagu The Miracle and the Sleeper dan Overture 1928 juga Strange Deja Vu: intro yang mantap dan menghentak.
Hal yang unik dari lagu-lagu Dream Theater di album ini — seperti di album-album lainnya juga — adalah bagaimana mereka konsisten untuk menyuguhkan musik yang “akademis”. Semua personil Dream Theater (bahkan Mike Mangini yang baru saja menggantikan Mike Portnoy) memiliki catatan akademis musikal yang berbobot. Oleh karena itulah, lagu-lagu mereka jarang ada yang terkategori easy listening.
Dream Theater selalu tampil idealis — dan bahkan bisa dibilang keras kepala — menyuguhkan musik-musik yang “memaksa” pendengarnya untuk mendengarkan mereka dengan konsentrasi penuh. Selain itu, beberapa lagu mereka juga sering berdurasi panjang. Lagu Beyond This Life, Home, dan Finally Free di album ini semuanya berdurasi di atas 10 menit. Syairnya tak terlalu banyak, namun perubahan-perubahan irama dari lambat menuju cepat — atau sebaliknya — mereka lakukan dengan begitu tertata dan mulus.
Sejauh ini, idealisme dan konsistensi para personil Dream Theater telah terbayar dengan popularitas mereka. Popularitas itu pun selalu terjaga dengan kualitas lirik dan lagu yang mereka hasilkan. Album ini disebut-sebut sebagai album yang membuat nama mereka berkibar kembali setelah mereka sebelumnya dikenal luas dengan lagu Pull Me Under dan Another Day yang dimuat dalam album Images and Words tahun 1992. (*)



Pesan dari tulisan di atas adalah kita anak muda harus senantiasa mengasah kemampuan kita dengan belajar sungguh-sungguh agar keamapuan kita selalu berkembang maju dan kita dapat menciptakan karya-karya yang luarbiasa dan menjadi inspirasi bagi setiap orang yang mendalami bidang yang sama maupun yang tidak sama dengan kita.
Demikian secuil informasi yang ingin saya sampaiakan. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Silahkan berikan komentar jika ingin membahkan atau mengurangi.



Thursday, September 15, 2011

Terjemahan Bebas Narasi Lirik Lagu Caping Gunung

Lirik Lagu Caping Gunung:
Dhek jaman berjuang
Njuk kelingan anak lanang
Biyen tak openi
Ning saiki ana ngendi
Jarene wis menang
Keturutan sing digadang
Biyen ninggal janji
Ning saiki apa lali
Ning gunung
Tak jadongi sega jagung
Yen mendung
Tak silihi caping gunung
Sukur bisa nyawang
Gunung desa dadi reja
Dene ora ilang
Gone padha lara lapa

 Artinya:
Ketika masa perjuangan
Ku teringat putraku
Dulu aku rawat
Namun sekarang entah di mana
Katanya sudah merdeka
Terpenuhi apa yang diinginkan
Dulu dia berjanji
Namun sekarang apakah alpa
Di gunung
Kubekali nasi jagung
Kalau mendung
Kupijami caping gunung
Syukurlah jika dia bisa melihat
Kini gunung desa makin ramai
Tapi kok tidak hilang
Keadaan susah payah
Wahai orang-orang kota, ingatkah engkau pada zaman perang kemerdekaan. Pada saat engkau menggungsi ke desa karena kotamu diluluhlantakkan oleh penjajah. Engkau jadikan desa kami tempat berlindung dan engkau sendiri menyamar sebagai penduduk desa. Sebagai penduduk desa, engkau sama seperti kami yang tiap hari makan nasi jagung dan memakai caping gunung. Hingga pada saatnya engkau semua kembali untuk merebut kotamu dan memproklamirkan kemerdekaan. Saat ini di zaman pembangunan, apakah engkau mengingat kami? Padahal kami ingin tahu kabar engkau, apakah engkau bahagia disana. Kalau engkau bahagia, tularkanlah kepada kami atau anak cucu kami dengan kesejahteraan. Caping gunung yang dulu sering engkau gunakan masih kami simpan.



Pesan lagu ini bagi saya “evergreen” untuk semua yang merasa melupakan desa, baik sengaja maupun tidak. Melupakan karena sudah menjadi orang kota. Sekarang zamannya urbanisasi, hampir sebagian besar orang produktif di desa pindah ke kota besar. Sehingga desa kosong akan tenaga-tenaga produktif yang berakibat desa tak pernah sejahtera.

Tuesday, December 7, 2010

Lirik Lagu Kuburan Lupa-lupa Ingat Versi Hacker

0 comments
Lagu lupa-lupa ingat memang menarik, sederhana easy listening, simple, dan menghibur. Sampai-sampai para Hacker pun suka dan sedikit memodifikasi syairnya.
Namanya juga Hacker jadi tidak jauh-jauh dari yang namanya komputer. Berikut lagu lupa-lupa ingat versi para Hacker

[*]

LUPA! lupa lupa lupa, lupa lagi syntaxnya
LUPA! lupa lupa lupa, lupa lagi syntaxnya
INGAT! ingat ingat ingat, cuma ingat Algonya
INGAT! aku ingat ingat, cuma ingat Algonya

[**]
C: registry, Services, ke blok,
ke C: lagi, registry, C panel, ke blok,
ke C: lagi, registry, C panel, ke blok,
ke C: lagi,

C: registry, Services, ke blok,
ke C: lagi, registry, C panel, ke blok,
ke C: lagi, registry, C panel, ke blok,
ke C: lagi,

Back to[*] [**]

C: sialan, keDeepfreeze, ke D:,
ke C: lagi, sialan, keDeepFreeze, mampus,
ke C: lagi, registry, C panel, ke blok,
ke C: lagi, services, kill AV, ke blok,
ke C: lagi, registry, Kill AV, ke blok,

SYNTAX ERROR!!
 

Orang Biasa, Biasa Banget Copyright © 2011 | Template created by Fajri Arjuna | Powered by Blogger